Dosen dan Mahasiswa Desain Komunikasi Visual Telkom University Kolaborasi bersama Komunitas Filsafat untuk Merancang Zine Budaya Kontemporer

Dosen dan Mahasiswa Desain Komunikasi Visual Telkom University Kolaborasi bersama Komunitas Filsafat untuk Merancang Zine Budaya Kontemporer

Dosen dan mahasiswa Desain Komunikasi Visual Telkom University berkolaborasi bersama Komunitas Filsofi Seluas Batas (Filsebat) merancang suatu zine yang membahas berbagai fenomena sosial dan budaya populer di anak muda saat ini. Komunitas Filsebat merupakan suatu komunitas virtual yang banyak membahas tentang konten-konten seputar budaya populer baik itu seni, musik, dan film. Komunitas ini seringkali mengulas perihal budaya populer secara ringan, namun tetap berisi. Komunitas ini memadukan informasi-informasi ringan (dan terkadang personal) seperti rekomendasi playlist dan film dan ulasan esai yang menarik.

Ide perancangan zine muncul untuk membuat media informasi berupa narasi personal yang masih memiliki ruang di tengah bombardinya informasi clickbait atau rage-bait.  Zine ini ingin memberikan berbagai narasi personal tentang budaya populer Indonesia saat ini. Zine ini ingin megembalikan kembali jika narasi personal masih bisa menjadi ruang untuk kita bisa menemukan gagasan, bertukar cerita, dan menjadi ruang kemajemukan berpikir di tengah hiruk pikuk konten sosial media saat ini. Selama ini, informasi Komunitas Filsebat semuanya dibuat secara virtual/online menggunakan platform sosial media Instagram. Seperti halnya konten pada homeless media (seperti Instagram ini), informasi akan dikerangkeng oleh berbagai algoritma. Maka, informasi hanya akan menjadi lalu lintas semata di era techno-feudalism seperti ini. Narasi-narasi personal menjadi cepat hilang dan tergantikan oleh berbagai “klik” dan “selera massa” di sosial media. Riuh rendah ini hanya menciptakan berbagai informasi antara yang sesuai selera kita atau bukan. 

Zine ini kemudian menjadi sarana narasi personal dari Komunitas Filsebat untuk bercerita tentang budaya populer di sekitar mereka – terutama memandang budaya dari perspektif “bawah”. Anggota komunitas ini menuliskan berbagai cerita yang menarik dan personal bagi mereka. Benang merahnya tetap berakar pada budaya populer, seperti konten-konten yang selama ini dibuat oleh Komunitas Filsebat. Proses perancangan zine ini secara partisipatif dan kolaboratif. Pada tahap awal, setelah usulan topik disepakati, maka secara mandiri anggota komunitas mulai membuat konten tulisannya masing-masing. Poin utamanya tulisan ini merepresentasikan narasi personal seperti pengalaman pribadi, selera pribadi, nostalgia, atau ruang lingkup anggota Komunitas Filsebat. Keunikan dari komunitas ini adalah anggotanya tersebar di berbagai daerah, tidak hanya terpusat di Jawa. Melalui narasi personal ini kita bisa menyimak beragam peristiwa budaya di berbagai daerah di Indonesia, dari kacamata personal anggota Komunitas Filsebat.  

Proses perancangan zine ini melalui metode “zineography” yaitu suatu proses pendekatan desain zine yang mengutamakan proses kolektif dan kolaboratif secara personal. Tahap awalnya, Tim Dosen dan Mahasiswa memetakan keresahan personal dari masing-masing anggota Komunitas Filsebat melalui workshop. Semua anggota komunitas mulai menuliskan keresahannya masing-masing, terutama terkait pengalaman personal mereka. Para anggota komunitas mulai bereksplorasi mengolah ide dari berbagai pengalaman dan keresahan personal tersebut.  Mereka mulai menulis dalam berbagai bentuk ada yang menggunakan esai, reportase, dan artikel feature. Proses selanjutnya pun mereka memberikan gambaran dasar terkait visual seperti contoh ilustrasi, font, dan layout yang akan digunakan dalam zine ini nantinya. Pendekatan ini cukup unik, karena berbeda dari pendekatan editorial design sebelumnya yang mengedepankan harmonisasi template, maka melalui pendekatan ini, perancangan menjadi lebih demokratis. Perancangan zine tidak lagi menjadi otonomi desainer atau zinester, dan hanya menjadikan partisipan sebagai subjek. Tapi, semua punya peran masing-masing dalam berkolaborasi untuk membuat zine. Hasil akhirnya adalah zine ini merupakan serangkaian proses yang mencoba mengutamakan kembali narasi personal masing-masing. Zine ini merupakan serangkaian narasi personal, tentang apapun, dalam bentuk keresahan dan pengalaman tiap individu masing-masing, untuk membuktikan jika narasi personal masih berjaya di era algoritma! 



Rendy Pandita Bastari, Astiti Elmanisa, dan Idhar Resmadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *