
Brand Activation Desa Baros melalui Revitalisasi Event Tradisional (Desa Konservasi Baros)
Desa Baros, Arjasari, memiliki kekayaan tradisi, budaya, dan alam yang potensial untuk dikembangkan sebagai desa wisata berbasis konservasi. Namun, banyak event tradisional seperti Unggah Buruan, Mapag Cai, dan atau beragam jenis event tradisional lainnya yang belum terdokumentasi secara sistematis maupun diposisikan sebagai daya tarik utama desa. Hilangnya lembaga adat menyebabkan event-event tradisional ini kehilangan pelaku sehingga menimbulkan potensi hilangnya sejarah tradisional Desa Baros yang sejatinya mengandung identitas komunitas Desa. Minimnya promosi, diplomasi budaya, dan kurangnya pengemasan informasi yang menarik membuat potensi ini belum teroptimalkan dalam mendukung ekonomi lokal. Revitalisasi event tradisional menjadi mendesak sebagai upaya re-rekognisi identitas komunal, pelestarian budaya, sekaligus strategi aktivasi regional branding Desa Baros. Pendekatan ini dapat diperkuat melalui kuliner khas yang menjadi bagian integral dari setiap perayaan, karena tidak hanya mencerminkan identitas lokal, tetapi juga memiliki nilai jual tinggi bagi wisatawan. Dengan dokumentasi yang baik dan pengemasan yang kreatif, event dan kuliner tradisional dapat menjadi media promosi yang efektif, meningkatkan daya tarik wisata, serta menggerakkan kesadaran dan partisipasi masyarakat.
Masyarakat Desa Baros memiliki potensi besar dalam pengembangan desa wisata. Mereka memiliki pengetahuan lokal yang mendalam tentang sejarah, budaya, dan lingkungan desa. Selain itu, masyarakat juga memiliki keterampilan dalam kerajinan tangan dan kuliner tradisional. Kelompok-kelompok ini memiliki moral dan komitmen yang kuat dalam mengelola aset desa, festival-festival desa, dan kehidupan sehari-hari di desa mereka. Melalui proyek ini, diharapkan masyarakat dapat berperan aktif dalam proses perencanaan, pembuatan, dan pemeliharaan event Brand Activation di Desa Baros ini agar budaya yak benda dapat terevitalisasi secara signifikan.
Brand Activation merupakan salah satu bentuk promosi Brand yang mendekatkan Brand dengan konsumennya melalui berbagai aktivitas yang menarik perhatian konsumen hingga menciptakan kesan yang mendalam di benak konsumen. Brand Activation juga dapat menjadi interaksi langsung antara brand dengan konsumennya yang pada akhirnya dapat menciptakan awareness dan loyalitas konsumen. Elemen-elemen pada event Brand Activation ini yang dapat dirasakan dan dialami (experience) oleh konsumen yang datang ke Pagelaran Mulang ka Sarakan diharapkan akan membangun awareness dan loyalitas konsumen untuk tetap melestarikan jajanan tradisional Desa Baros. Kondisi bahwa jajanan tradisional adalah sesuatu dari masyarakat oleh masyarakat dan untuk masyarakat lebih terpatri di benak konsumen yang hadir dan tereksposure Brand Activation ini.

Kegiatan Brand Activation ini mengangkat 4 jenis panganan tradisional yang terancam hilang, panganan ini dulunya digunakan sebagai hidangan atau sajian saat dilakukannya ritual adat. Seiring perkembangan zaman, ritual adat sudah tidak dilakukan Kembali, sehingga panganan-panganan ini mulai menghilang dari pasaran. Melalui kegiatan abdimas ini yang tergabung dalam Event Nyawang Rasa, panganan-panganan tersebut dihadirkan kembali untuk memperkenalkan dan mengingatkan Kembali kepada Masyarakat bahwa ada panganan tradisional yang merupakan kekayaan tradisional yang perlu untuk kita lestarikan. Untuk menarik perhatian pengunjung dan memberi pengalaman yang menarik melalui exposure konsep Guerilla Design.
Makanan Tradisional yang terancam hilang

Lokus 1 memiliki konsep “membawa desa ke kota” dimana instalasi merupakan replika sebuah rumah yang sangat mewakili kondisi desa baros, Desain Brand Activation yang merujuk pada panganan tradisional diwakili replika empat panganan tradisional yang hampir punah atau sudah jarang dikonsumsi masyarakat, padahal pangan tersebut merupakan salah satu entitas masyarakat desa baros. Panganan yang dimaksud diantaranya yaitu Awug, Uras, Kupat Keupeul dan Tangtang Angin. Salah satu nama dari panganan itu pun bahkan cukup asing di telinga masyarakat kota.

Dummy atau disebut replika kuliner, adalah seni tiruan makanan yang begitu nyata hingga membuat “lapar mata”, dibuat semirip mungkin dengan panganan tradisional sebenarnya. Empat panganan ini di masa sekarang lebih sering muncul hanya pada ritus dan tradisi tertentu yang makin kesini makin jarang dilakukan.
Lokus 2 memiliki konsep yang sebaliknya yaitu “membawa kota ke desa” dimana instalasi yang ditampilkan lebih bersifat kontemporer dimana untuk modern kota diimplementasikan kedalam fungsi-fungsi instalasi dengan tetap menjaga unsur tradisi desa baros untuk memberikan exposure revitalisasi desa baros. Media Brand Activation yang diimplementasikan sebagai rujukan empat panganan tradisional yang disebutkan sebelumnya.

Media ini berupa Totem dengan sedikit Gamifikasi yaitu puzzle dari cube yang disusun sedemikian rupa. Struktur freestanding dari elemen kubus yang saling mengunci dan dapat berputar kiri kanan. Media ini memberikan informasi lebih lengkap mengenai empat panganan yang dibahas sebelumnya. Penjelasan lebih lengkap mengenai filosofi asal muasal dan representasi tradisi serta cara membuatnya sebagai bentuk harapan bahwa panganan-panganan tersebut bisa diaktifkan kembali, direvitalisasi agar menjadi sebuah aset tradisional yang masih bisa dirasakan dan dijaga kelestariannya. Media Brand Activation yang mengimplementasikan sebuah konsep Guerilla Marketing dan Gamifikasi ini menciptakan kejutan visual yang mengandalkan elemen kreatifitas dan interaksi langsung kepada pengunjung.
Setelah kegiatan abdimas ini, media-media Brand Activation tersebut diserahkan ke mitra sebagai aset Desa Baros yang dapat digunakan oleh masyarakat desa baros sebagai media exposure panganan tradisional desa baros.

DIENA YUDIARTI, S.Ds., M.S.M – Dr. LIRA ANINDITA UTAMI, S.Ds., M.Phil., Ph.D. – WIRANIA SWASTY, S.Ds., M.A.B., Ph.D.