
Workshop Batik Kontemporer pada Tote Bag: Kembangkan Kreativitas dan Apresiasi Seni di SD Widuri Kabupaten Bandung
Kabupaten Bandung – Upaya penanaman nilai seni dan pelestarian budaya sejak usia dini terus didorong oleh berbagai institusi pendidikan tinggi melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM). Salah satunya dilakukan oleh Tim PkM dari Program Studi S1 Desain Komunikasi Visual dan S1 Seni Rupa Universitas Telkom yang menyelenggarakan “Workshop Batik Kontemporer pada Tote Bag” di SD Widuri, Kabupaten Bandung, pada Kamis, 27 November 2025.
Kegiatan ini diprakarsai oleh tim dosen yang terdiri dari Dr. Samsul Alam, S.Pd., M.Pd., Dr. Soni Sadono, dan Bambang Melga Suprayogi, S.Sn., M.Sn., serta dibantu oleh dua mahasiswa, yaitu Alma Raissa Sakinah dan Ananda Dhaffa Arrafi. Melalui workshop ini, para akademisi ingin membekali para siswa dengan pengalaman kreatif sekaligus memperkenalkan batik sebagai bagian dari identitas seni dan budaya bangsa.
Metode Workshop Interaktif untuk Siswa Sekolah Dasar
Pelaksanaan workshop mengadopsi pendekatan interaktif yang dirancang sesuai dengan karakteristik belajar anak sekolah dasar. Kegiatan dibuka dengan pemaparan materi mengenai batik dan perkembangan bentuknya dalam ranah kontemporer. Dengan penyampaian visual yang menarik, siswa diperkenalkan pada berbagai jenis motif, simbol makna, dan teknik pewarnaan dalam batik.
Setelah itu, para siswa diberikan kesempatan untuk langsung mempraktikkan proses membatik pada media tote bag. Pendampingan dilakukan secara intensif oleh tim dosen, mahasiswa, serta guru kelas, sehingga setiap anak dapat bereksplorasi dengan rasa percaya diri. Sesi berikutnya adalah apresiasi karya, di mana siswa diajak untuk menampilkan tote bag yang telah mereka buat dan menjelaskan motif serta pilihan warna yang mereka gunakan. Melalui tahapan ini, anak-anak tidak hanya menunjukkan hasil kreativitas mereka, tetapi juga belajar menyampaikan ide, mengulas karya, serta memberikan penghargaan terhadap karya teman-temannya.
Ketercapaian Tujuan: Kreativitas dan Apresiasi Seni
Tujuan utama dari kegiatan ini adalah mengembangkan kreativitas siswa, terutama dalam menghasilkan gagasan visual yang orisinal. Pemahaman teori kreativitas yang menjadi dasar pelaksanaan workshop menyatakan bahwa kreativitas berkaitan erat dengan kemampuan berpikir divergen, yaitu kemampuan menghasilkan banyak ide dalam bentuk yang beragam.
Indikator keberhasilan kreativitas seperti kelancaran (jumlah karya atau ide yang dihasilkan), fleksibilitas (variasi bentuk dan kombinasi warna), serta keaslian dapat diamati secara langsung dalam proses kegiatan. Dari total 30 siswa yang mengikuti workshop, seluruhnya berhasil menyelesaikan tote bag batik dengan motif yang unik. Variasi pola garis, lengkungan, titik, flora, hingga bentuk bebas menunjukkan kebebasan berkreasi dan keberhasilan pendekatan yang diterapkan.
Selain kemampuan kreatif, workshop juga menjadi sarana bagi siswa untuk meningkatkan pemahaman dan apresiasi terhadap seni dan budaya. Dengan melihat batik bukan hanya sebagai kain tradisional, tetapi juga sebagai medium ekspresi diri, para siswa mulai memahami nilai penting batik dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Ketika siswa mempresentasikan motif yang mereka pilih, terlihat bahwa mereka mulai mampu mengaitkan visual dengan makna personal. Beberapa siswa menyatakan warna cerah menggambarkan kegembiraan, sementara motif tertentu melambangkan keberanian atau keinginan untuk tampil berbeda. Pembelajaran berbasis pengalaman seperti ini dipercaya dapat memperkuat kecintaan pada seni sejak dini.
Apresiasi dari Pihak Sekolah
Kegiatan yang berlangsung selama sehari tersebut mendapat sambutan hangat dari pihak sekolah. Kepala SD Widuri, Ibu Wenny Milasari, S.H., menyampaikan rasa terima kasih dan dukungannya terhadap pelaksanaan workshop. “Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini. Selain menambah pengetahuan baru, siswa semakin mengenal batik sebagai bagian dari budaya kita. Semoga kegiatan seperti ini bisa lebih sering dilaksanakan lagi,” ujarnya.
Hal senada disampaikan oleh Guru Kelas 3, Ibu Aliya Chaerani Hidayat, S.Kom., yang mendampingi para siswa selama workshop. Menurutnya, antusiasme siswa terlihat sejak sesi awal hingga akhir. “Anak-anak sangat senang mempraktikkan langsung membatik pada tote bag. Mereka bisa belajar mencampur warna dan memahami proses kreatif. Ada banyak pengetahuan baru yang mereka dapatkan. Kami berharap akan ada kegiatan serupa lagi di masa mendatang,” tuturnya.
Dukungan pihak sekolah menunjukkan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan pendidikan dasar dapat memberikan manfaat nyata dalam meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis seni.
Komitmen Pelestarian Budaya melalui Pendidikan Kreatif
Universitas Telkom sebagai institusi pendidikan tinggi berbasis teknologi dan kreativitas terus berkomitmen untuk mengambil peran aktif dalam pelestarian budaya dan pemberdayaan masyarakat. Melalui kegiatan PkM seperti workshop batik ini, nilai seni dan budaya dapat ditanamkan sejak dini secara menyenangkan dan bermakna.
Tim pelaksana berharap hasil kegiatan ini dapat memotivasi siswa untuk terus bereksplorasi dalam seni, serta menumbuhkan rasa bangga terhadap tradisi lokal. “Kami ingin menunjukkan bahwa batik dapat dikembangkan dalam bentuk kontemporer yang dekat dengan keseharian anak-anak, salah satunya pada tote bag. Pendidikan seni di tingkat dasar merupakan pondasi penting bagi perkembangan karakter kreatif generasi mendatang,” jelas salah satu perwakilan tim dosen saat penutupan acara.
Dengan pencapaian yang membanggakan pada workshop ini, ke depan Universitas Telkom berencana memperluas agenda pengabdian di sekolah-sekolah lain untuk memperkuat literasi seni dan budaya di lingkungan masyarakat luas.
Dr. Samsul Alam, S.Pd., M.Pd., Dr. Soni Sadono, dan Bambang Melga Suprayogi, S.Sn., M.Sn.